Minggu, 08 April 2012

SNI Mainan Anak

29/12/2010
Kliping Berita

JAKARTA. Maraknya impor produk mainan dari China mulai membuat pemerintah cemas. Guna mengurangi impor, pemerintah akan mempercepat pemberlakuan standar nasional Indonesia (SNI) produk mainan anak.

Pemerintah berniat memberlakukan SNI tersebut pada kuartal I 2011. Saat ini, draf SNI masih digodok oleh Badan Standardisasi Nasional (BSN), dan siap diserahkan Kementerian Perindustrian. 

Budi Irmawan, Direktur Industri Aneka Ditjen Industri dan Basis Manufaktur Kementerian Perindustrian (Kemenperin) bilang, ketentuan-ketentuan yang diatur dalam SNI sudah disepakati. “Kami targetkan, kuartal I tahun depan sudah mulai berlaku,” kata Budi, Selasa (28/12).

Menurut Budi, SNI tersebut mengadopsi standar mainan anak yang dipakai Eropa, yakni European Noofication (Vi) Ho.71. Kelak setelah SNI diberlakukan, seluruh produk mainan anak yang beredar harus memasang logo SNI. Selain itu, setiap produk wajib mencantumkan label peruntukan usia anak, serta informasi mengenai tingkat bahayanya dari sisi fisik maupun mekanik mainan. “Intinya tidak boleh ada bahan kimia berbahaya dan bentuknya aman digunakan,” jelas Budi.

SNI ini berlaku baik bagi produk impor mau pun lokal. Pemerintah yakin pemberlakuan SNI ini bisa menyaring kualitas produk impor dan meningkatkan kualitas produk mainan di dalam negeri.

Budi mengakui, produk mainan anak yang beredar di Indonesia saat ini didominasi oleh produk impor asal China. Umumnya, mainan China itu terbuat dari bahan plastik yang mengandung zat kimia berbahaya. Itu pun bahan yang dipakai kebanyakan baku daur ulang, sehingga harganya lebih murah.

Nah,setelah ada SNI, produsen tidak boleh lagi memakai bahan daur ulang. Dengan begitu, harga mainan impor dan lokal bisa bersaing. “Jadi SNI ini akan menguntungkan produk lokal,” ujar Budi.

Selain itu, menurut Budi, SNI bisa merangsang pengusaha lokal meningkatkan kualitas produk. Dengan demikian, dalam jangka panjang produk lokal bisa mengimbangi kualitas impor.

Dhanang Sasongko, Ketua Asosiasi Mainan Edukatif dan Tradisioanal Indonesia (APME-TI) menyambut baik langkah pemerintah menerapkan SNI. Menurut dia, sebagian pengusaha lokal sudah siap melaksanakan SNI tersebut.

Hanya saja, ia meminta pemerintah lebih maksimal mensosialisasikan SNI itu. “Sekitar 60% produsen lokal masih pakai cat berbahaya, sementara sosialisasi minim, mereka tidak tahu cat aman seperti apa,” ungkap dia.

Yudo Widiyanto

Sumber : Kontan, Rabu 29 Desember 2010, hal. 15.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terima Kasih sudah mengunjungi blog kami
Silahkan tinggalkan pesan Anda